Halal Bihalal, Habib Luthfi: Perlu Pertemukan Balung Pisah untuk Sambung Sanad - Alhimna

Breaking

Alhimna

Ilhami Dunia Dengan Aswaja

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 15 Juni 2020

Halal Bihalal, Habib Luthfi: Perlu Pertemukan Balung Pisah untuk Sambung Sanad

Habib Luthfi hadir dalam Halal Bihalal PWNU Jateng. (Foto:Ibda)
Alhimna.com – Halal bihalal PWNU Jawa Tengah yang digelar secara tatap muka dan lewat daring diikuti Ulama, Senin (15/6/2020). Kegiatan tersebut digelar dengan tatap muda sesuai protokol kesehatan agar tetap mengutamakan aspek kesehatan.

Dalam laporan, Sekretaris PWNU Jawa Tengah KH. Hudallah Ridwan Naim (Gus Huda), beberapa ulama yang hadir di kompleks kantor PWNU Jateng yaitu Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, dan Habib Umar Muthohar. 

Hadir juga Habib Abu Bakar Alatas, Ketua DPW Rabithah Alawiyah Jawa Tengah, Sekjend. Jam'iyyah Thoriqoh Al-Mu'tabaroh Annahdliyah Dr KH Masyhudi, jajaran Tanfidziyah, Badan Otonom dan Lembaga NU Jawa Tengah di Kantor PWNU Jalan dr. Cipto 180 Semarang, Senin (15/6/2020) dengan protokol kesehatan. "Adapun PCNU se-Jateng hadir virtual melalui aplikasi zoom," ujar Ketua Panitia Kegiatan, Sekretaris Tanfidziyah PWNU Jateng, KH Hudalloh Ridwan.

Kegiatan juga diikuti oleh seluruh PCNU se-Jawa Tengah secara online melalui aplikasi zoom dan juga disiarkan langsung melalui channel Youtube Maarif NU Jateng.

Ketua Tanfidziyah PWNU Jateng, HM Muzamil dalam sambutan mengatakan NU adalah jam'iyyah diniyah dan ijtima'iyah yang berhaluan ahlus sunnah wal jama'ah. "Dalam mengambil berpikir dan bersikap, NU merujuk pada Al-Qur'an, Al-Hadits, ijma' dan qiyas," tegasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, nahdliyin taat kepada Allah, taat kepada Rasulullah dan ulim amri. "Ketaatan ini dilakukan sesuai kemampuan masing-masing, karena Allah tidak membebani suatu kaum kecuali sesuai dengan kemampuannya," terangnya.

Sebagai jam'iyyah, NU selalu merujuk pada muqadimah qanun asasi, mabadi khairu ummah, khitah Nahdliyah dan peraturan organisasi yang berlaku di lingkungan NU. "Kerenanya pada momentum bulan Syawal ini kita kembali pada fitrah organisasi dalam berkhidmat pada bangsa dan negara," ujarnya.

Ia berharap semua bidang khidmat NU dilakukan dengan musyawarah mufakat sebagaimana arahan para kasepuhan atau masyayih, dan dilakukan dengan ta'awun atau kerjasama yang baik. "Termasuk kegiatan pembangunan pesantren mahasiswa yang telah direncanakan juga dilakukan ta'awun antara pengurus, warga, aghniya dan seluruh komponen jam'iyah NU," tuturnya.

Rois Syuriyah KH Ubaidillah Shodaqoh dalam pidato iftitah menyampaikan bagaimana IPTEK dapat melayani agama, sehingga beribadah bisa dengan nyaman dan aman. "Bagaimana teknologi mampu memberangkatkan jamaah haji. Namun akibat musibah yang ada, IPTEK belum mampu melayani keperluan jama'ah," terangnya.

Dilanjutkan Mbah Ubaid, bahwa pemerintah adalah cermin dari rakyatnya, termasuk Nahdliyyin. Kita jangan maido atau mencemooh. "Kami terima kasih kepada pemerintah yang telah berikhtiar memimpin dengan baik, seperti menjaga agama atau ri'ayatu din, baik aqidah, syari'at maupun akhlaq. Juga siyasatu dunya dalam memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat," tegasnya.

Dalam taushiyahnya Habib Umar Muthohar menyampaian perlunya menjunjung tinggi akhlak yang mulia dalam memperkuat persatuan dan menghindari salah paham. 

Sedangkan Habib Luthfi menyampaikan perlunya mempertemukan balung pisah dengan melakukan regenerasi dengan sanad yang menyambung kuat. "Untuk menyambungkan sanad ini kita telah berbuat apa? Seyogyanya PWNU dan PCNU memiliki cacatan sejarah ulama ahlissunah wal jama'ah di negeri kita sampai kepada dluriyahnya dan peran sertanya dalam menyambungkan sanad ilmu dan amal sholih," terangnya. (hi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here