PCNU Ziarahi Muassis dan Muharrik NU Sampang - Alhimna

Breaking

Alhimna

Ilhami Dunia Dengan Aswaja

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 15 Maret 2020

PCNU Ziarahi Muassis dan Muharrik NU Sampang

Ziarah muassis dan muharrik PCNU Sampang. (Foto: Muallifah)
Alhimna.com - “Sejarah adalah suatu perjanjian di antara orang yang sudah meninggal, mereka yang masih hidup, dan mereka yang belum dilahirkan” ungkapan tersebut lahir dari politikus dan Filsuf Inggris yakni Edmund Burke (1729-1797). Kehidupan yang berlangsung hari ini lahir dari proses panjang masa lalu yang memiliki keterikatan satu sama lain.

Seperti itulah manusia. Kita tercipta sebab perjalanan panjang masa lalu yang tidak putus antar satu dengan yang lain, kemudian kita akan berevolusi, mengalami perubahan serta mengalami berbagai peningkatan. Hal tersebut juga terjadi pada sebuah organisasi besar, yakni Nahdhlatul Ulama, di masa depan akan menjadi representasi ormas serta kiblat dari perdamaian Indonesia hingga kiblat perdamaian dunia.

Sejarah panjang perjalanan Nahdhlatul Ulama di berbagai wilayah memiliki perbedaan yang masih terikat satu daerah dengan daerah yang lain. Kabupaten Sampang misalnya. Sejarah berdirinya Nahdhlatul Ulama di Kabupaten ini memiliki ciri khas yang berbeda dari kabupaten yang lain di wilayah Madura. Meski demikian, antar Kabupaten memiliki keterikatan antara satu dengan yang lain.

Daerah Banyuates, Ketapang. Salah satu daerah Utara yang ada di Kabupaten Sampang menjadi salah satu titik sentral perjuangan KH. Kholil bin Abd. Latif, perjuangan mendirikan masjid jami’ Saykhona menjadi bukti perjuangan menyebarkan agama Islam, menjadi tokoh di antara kondisi masyarakat yang belum memahami ajaran Islam serta budaya yang begitu jauh dari Islam, menelisik lebih jauh perjuangan salah satu ulama Madura ini dalam mendirikan masjid hingga pondok pesantren yang sampai saat ini masih eksis di wilayah Banyuates Kabupaten Sampang (Red: Ponpes Mambaul Maarif). Peninggalan sejarah, seperti: Pasarean ( Rumah) yang berukuran 10 x 10 m2 masih dirawat oleh para penerusnya serta tetap kokoh meski sudah hampir satu abad didirikan.

Selain itu, rasoghen (baju) KH. Kholil bin Abd. Latif sebanyak 2 baju, serta sarung yang pernah digunakan oleh Nyai Satta ketika melahirkan juga masih tersimpan rapi, situs peninggalan bersejarah ini menjadi satu hal yang wajib diketahui oleh generasi muda NU untuk tetap kokoh berjuang dengan NU.

Pemahaman sejarah bagi keberlangsungan organisasi, merupakan cikal bakal dari proses regenerasi organisasi untuk terus berkhidmat dan berjuang mempertahankan eksistensi organisasi. Melalui kegiatan ziarah kepada para Muassis dan Muharrik NU sampang. Ketua PCNU Kabupaten Sampang, KH Itqan Busiri memiliki tekad yang kuat untuk komitmen agar tetap satu komando bersama NU.

“Pemahaman local wisdom tentang perjuangan para ulama NU Sampang akan menjadi sebab musabab para kader muda NU untuk meneruskan perjuangan NU. Pemahaman perjalanan para pendiri NU Sampang harus kita pahami sebagai langkah untuk memajukan perjuangan.

Kegiatan ini melibatkan seluruh banom NU, mulai dari Muslimat, Fatayat, LKNU, IPNU, IPPNU, ISNU, Lakpesdam. Masing-masing wilayah dalam setiap astah berbeda memiliki sejarah perjuangan berbeda pada masanya, hal tersebut diungkapkan oleh masing-masing kiai/sesepuh yang menjadi tokoh dari wilayah tersebut yang tersebut di beberapa titik ziarah. Mulai dari Prajjan Camplong ( Ziaroh Maqbarah KH. Syabrowi), Pajudan (Ziaroh Maqbarah KH. Hasib), Karang Penang (Ziaroh Maqbarah KH. Sholeh), Banyuates (Ziarah petilasan Syakhona Kholil), Tambelangan (Ziaroh Maqbarah KH. Moh. Fathullah), Sreseh (Ziaroh Maqbarah KH. Chloid El-Busyairi). (mu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here