Kisah Burung Beo Sang Kiai - Alhimna

Breaking

Alhimna

Ilhami Dunia Dengan Aswaja

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Kamis, 14 November 2019

Kisah Burung Beo Sang Kiai

Burung beo unjuk kebolehan. (Foto: https://1funny.com)
Alkisah, di sebuah pesantren, seorang kiai merawat seekor burung beo. Karena lama dirawat dan dilatih, beo itu terlatih untuk berzikir. Adapun kalimat-kalimat zikir yang biasa beo itu lantunkan semisal : assalamu’alaikum, subhanallah, alhamdulillah, Allahu akbar, la ilaha illallah.

Singkat kisah, suatu hari, sangkar burung terbuka dan burung itu terbang bebas. Para santri pun mengejar burung beo yang lepas itu. Sementara si burung terbang tidak terkontrol hingga tertabrak kendaraan yang melaju kencang. Burung pun terkapar sekarat lalu tewas.

Setelah ditinggal burung kesayangannya, kiai nampak menaruh kesedihan. Para santri yang melihatnya juga mengira kiai bersedih karena ditinggal burungnya. “Kiai, jika hanya burung yang membuat kiai sedih, kami sanggup menggantinya dengan burung yang sejenis dan bisa berzikir juga. Janganlah kiai bermurung hingga sedemikian lamanya.

“Sesungguhnya aku bukan bersedih karena burung itu,” jelas kiai.

“Lantas kenapa kiai?” tanya santrinya lagi.

“Kalian melihat bagaimana burung itu sekarat setelah tertabrak?” tanya kiai.

“Ya kami melihatnya,” jawab santri kompak.

“Burung itu hanya bersuara kkkkaakk, kkkkhheek, kkkkaakk, kkkkhheek, bukan kalimat tayibah yang sudah kulatih berzikir sedemikian rupa. Namun saat merasakan perihnya sakaratul maut menjemput, ia hanya merasakan perihnya,” jelas sang kiai.

“Wahai para santriku, padahal burung itu tidak diganggu setan saat sakaratul maut. Sedangkan manusia diganggu setan saat sakaratul maut. Tidak ada yang tahu bagaimana keadaan kita mati, husnul khatimah ataukah suul khatimah,” kiai melanjutkan penjelasan.

Mendengar penjelasan dari kiai, para santri pun terdiam dan membenarkan sang kiai dan mereka pun ikut murung memikirkan hal yang serupa dengan kiainya. Bagaimana keadaan mereka saat sakaratul maut menjemput kelak?

Kisah ini dilansir dari buku “Aku Takut KehilanganMu’ karya Kang Maman (Maman Suherman) terbitan Grasindo, Februari 2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here