Fitnah dan Kapuk dalam Bantal - Alhimna

Breaking

Alhimna

Ilhami Dunia Dengan Aswaja

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Kamis, 14 November 2019

Fitnah dan Kapuk dalam Bantal

Kapuk beterbangan laiknya fitnah. (kisahmotivasihidup.blogspot.com)
“Kiai maafkan aku yang telah memfitnah kiai. Ajarkan aku sesuatu yang bisa menghapuskan kesalahanku itu.”

Aku berusaha menjaga lisanku, tak ingin sedikit pun menyebarkan kebohongan dan menyinggung perasaan kiai.

Kiai Husain pun terkekeh. “Apa kau serius?”

Aku menganggukkan kepala dengan penuh yakin.

“Aku serius, kiai. Aku benar-benar ingin menebus kesalahanku.”

Kiai Husain pun terdiam beberapa saat. Ia tampak berpikir. Aku sudah membayangkan sebuah doa yang akan diajarkan Kiai Husain kepadaku. Jika aku membacanya beberapa kali, maka Allah akan mengampuni dosa-dosaku. Aku juga membayangkan sebuah laku, tirakat, atau apa saja yang bisa menebus kesalahan dan menghapuskan dosa-dosaku.

“Apakah kau punya sebuah bantal di rumahmu?” pertanyan dari Kiai Husain ini di luar perkiraanku.

Aku benar-benar heran, Kiai Husain justru menanyakan sesuatu yang tidak relevan dengan permintaanku tadi.

“Maaf kiai?” aku berusaha memperjelas maksud kiai.

Kiai Husain pun tertawa. Di ujung tawanya, ia sedikit terbatuk. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menghampiriku. “Ya temukanlah sebuah bantal di rumahmu,” katanya.

Tampaknya Kiai Husain benar-benar serius dengan permintaannya.

“Aku punya sebuah bantal di rumah, kiai. Apa yang harus aku lakukan dengan bantal itu?”

Kiai Husain tersenyum.

“Besok pagi, berjalanlah dari rumahmu ke pondokku. Berjalanlah sambil mengeluarkan kapuk dari bantal itu sedikit demi sedikit. Setiap kali kau mencabut kapuk, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kau lalui.”

Aku hanya bisa mengangguk. Aku tak akan membantahnya. Barangkali maksud kiai Husain adalah agar aku merenungkan kesalahan-kesalahanku. Dan dengan menjatuhkan kapuknya sedikit demi sedikit, maka kesalahan-kesalahan itu akan gugur diterbangkan waktu.

Keesokan harinya, aku menemui Kiai Husain dengan sebuah bantal yang sudah tak memiliki kapuk. Aku segera menyerahkan bantal tanpa kapuk itu kepada beliau.

“Ini kiai, kapuk dalam bantal ini sudah aku jatuhkan sedikit demi sedikit sepanjang perjalanan. Aku berjalan lebih dari 5 kilometer dari rumahku ke pondok ini. Aku mengingat semua perkataan burukku tentang kiai. Aku menghitung betapa luasnya fitnah-fitnah tentang kiai yang sudah aku sebarkan kepada begitu banyak orang. Maafkan aku, kiai. Maafkan aku.”

Kiai Husain mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ada kehangatan yang aku rasakan dari raut mukanya.

“Seperti aku katakana kemarin, aku sudah memaafkanmu. Barangkali kau hanya khilaf dan hanya mengetahui sedikit tentangku. Tetapi kau harus belajar sesuatu,” katanya.

Aku hanya terdiam mendengar perkataan Kiai Husain yang lembut dan menyejukkan hatiku.

“Kini pulanglah!” pinta Kiai Husain.

“Pulangnya dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang sama saat kau menuju pondokku tadi.”

“Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali kapuk-kapuk yang tadi kau cabuti sedikit demi sedikit. Esok hari laporkan kepadaku berapa banyak kapuk yang bisa kau kumpulkan.”

Aku terdiam. Aku tak mungkin menolak permintaan Kiai Husain.

“Kau akan mempelajari sesuatu dari semua ini,” tutup Kiai Husain.

Sepanjang perjalanan pulang, aku berusaha menemukan kapuk-kapuk bantal yang tadi kulepaskan di sepanjang jalan. Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan. Betapa sulit menemukan kapuk-kapuk itu. Mereka tentu saja telah tertiup angina atau menempel di sebuah kendaraan menuju kota yang jauh, atau tersapu ke mana saja ke tempat yang kini tak mungkin aku ketahui. Tapi aku harus menemukannya. Aku harus terus mencari ke setiap sudut jalanan, ke gang-gang sempit, ke mana saja.

Aku terus berjalan.

Setelah berjam-jam, aku berdiri di depan rumahku dengan pakaian yang basah oleh keringat. Napasku berat, tenggorokanku kering. Di tanganku, kugenggam kapuk yang berhasil kutemukan di sepanjang perjalanan.

Hari sudah menjelang petang. Dari banyaknya kapuk yang kucabuti dan kujatuhkan dalam perjalanan pergi, hanya segenggam yang berhasil kutemukan dan kupungut lagi di perjalanan pulang. Ya, hanya segenggam.

Hari berikutnya aku menemui Kiai Husain dengan wajah yang murung. Aku menyerahkan segenggam kapuk itu pada Kiai Husain.

“Ini, Kiai, hanya ini yang berhasil aku temukan.” Aku membuka genggaman tanganku dan menyodorkan pada Kiai Husain.

“Kini kau telah belajar sesuatu,” seloroh Kiai Husain.

“Apa yang telah aku pelajari, Kiai?” aku benar-benar tak mengerti.

“Tentang fitnah-fitnah itu,” jawab Kiai Husain.

Tiba-tiba aku tersentak. Dadaku berdebar. Kepalaku mulai berkeringat.

“Kapuk dalam bantal yang kau cabuti dan kau jatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah-fitnah yang kau sebarkan. Meskipun kau benar-benar menyesali perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya, fitnah-fitnah itu telah menjadi kapuk yang beterbangan entah ke mana. Kapuk-kapuk itu adalah katamu. Mereka dibawa angina waktu ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak mungkin bisa kau duga-duga, ke berbagai wilayah yang tak mungkin bisa kau hitung.”

Tiba-tiba aku menggigil mendengarkan kata-kata Kiai Husain. Seolah ada tabrakan pesawat yang paling dahsyat di kepalaku. Serta hujan mata pisau yang menghujam jantungku. Aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Aku ingin mencabut lidahku sendiri.

“bayangkan salah satu dari fitnah-fitnah itu suatu saat kembali kepada dirimu sendiri. Barangkali kau akan berusaha meluruskannya, karena kau benar-benar merasa bersalah telah menyakiti orang lain dengan kata-katamu itu. Barangkali itu tak ingin mendengarnya lagi. Tetapi kau tak bisa menghentikan semua itu. Kata-katamu yang terlanjur tersebar dan terus disebarkan di luar kendalimu, tak bisa kau bungkus lagi dalam sebuah kotak besi untuk kau kubur dalam-dalam sehingga taka da orang lain lagi yang mendengarnya. Angin waktu telah mengadadikannya.”

“Fitnah-fitnah itu telah menjadi dosa yang terus beranak pinak taka da ujungnya. Agama menyebutnya sebagai dosa jariah. Dosa yang terus berjalan di luar kendali pelaku pertamanya. Maka tentang fitnah-fitnah itu, meskipun aku atau siapa pun saja yang kau fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah it uterus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya. Bahkan, meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah it uterus hidup karena angina waktu telah membuatnya abadi. Maka kau tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak.”

Tangisku benar-benar pecah. Aku tersungkur di lantai.
“Astaghfirullah al-azim … astaghfirullah al-azim…”

Aku hanya bisa terus mengulangi istigfar. Dadaku gemuruh. Air mata menderas dari kedua ujung mataku.

"Ajari aku apa saja untuk membunuh fitnah-fitnah itu, Kiai. Tolong ajari aku. Ajari aku. Astaghfirullah al-azim.”

Aku terus menangis menyesali apa yang telah aku perbuat.

Kiai Husain tertunduk. Beliau tampak meneteskan air matanya.

“Aku telah memaafkanmu setulus hatiku, Nak. Kini aku hanya bisa mendoakanmu agar Allah mengampunimu, mengampuni kita semua. Kita harus percaya bahwa Allah dengan kasih sayangNya adalah zat yang maha terus-menerus menerima taubat manusia. Innallaha tawwabur Rahim.”

Aku disambar halilintar jutaan megawatt yang mengguncangkan batinku. Aku ingin mengucapkan sejuta atau semiliar istigfar untuk semua yang telah kulakukan. Aku ingin membacakan doa-doa apa saja untuk menghentingkan fitnah-fitnah itu.

“Kini kau telah belajar sesuatu,” pungkas Kiai Husain. (*)

Kisah ini dilansir dari buku “Aku Takut KehilanganMu’ karya Kang Maman (Maman Suherman) terbitan Grasindo, Februari 2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here