Pancasila Sebagai Falsafah Indonesia - Alhimna

Breaking

Alhimna

Ilhami Dunia Dengan Aswaja

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 30 Oktober 2019

Pancasila Sebagai Falsafah Indonesia

Pendidikan Pancasila
Judul : Pendidikan Pancasila Untuk Perguruan Tinggi
Penulis  : M. Taufik, S.H., M.H., dkk
Penyunting : Hayat dan H. Suratman
Penerbit : Baskara Media, Aditya Media Grub
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, Juli 2018
Ukuran : 15 x 23 cm
Jumlah : xii + 382 halaman
ISBN : 978-602-50306-7-3
Peresensi  : Moh. Nahrul Irfan, mahasiswa Universitas Islam Malang
PANCASILA secara etimologis istilah “pancasila” berasal dari bahasa Sansakerta dari india (bahasa kasta brahmana) adapun bahasa rakyat biasa adalah bahasa Prakerta. Menurut muhammad Yamin dalam bahasa sansekerta perkataan “Pancasila” memiliki dua macam arti secara leksial yaitu “panca” artinya “lima” dan “syila” vokal 1 pendek artinya “batu sendi”, “alas”, atau “dasar”. Sama halnya dengan arti kedua yaitu “syiila” vokal i pendek artinya “peraturan tingkah laku yang baik, yang penting atau yang senonoh.”
   
Istilah pancasila telah dikenal sejak zaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit di mana sila-sila yang terdapat dalam pancasila itu sudah diterapkan dalam kehidupan masyarakat meskipun sila-sila tersebut belum dirumuskan secara konkrit. Menurut kitab Sutasoma Karang Mpu Tantular, pancasila berarti ”berbatu sendi yang lima atau pelaksanaan kesusilaan yang lima.“

Pancasila adalah isi dalam jiwa bangsa Indonesia yang turun-menurun lamanya terpendam bisu oleh kebudayaan barat. Dengan demikian, pancasila tidak saja falsafah negara, tetapi lebih luas lagi, yakni falsafah bangsa indonesia. 

Secara harfiah reformasi memiliki arti suatu gerakan untuk memformat ulang, menata ulang atau menata kembali hal-hal yang menyimpang untuk dikembalikan pada format atau bentuk semula sesuai dengan nilai-nilai ideal yang dicita-citakan rakyat.

Pancasila sebagai sumber nilai memiliki sifat yang reformatif artinya memiliki aspek pelaksanaan senantiasa mampu menyesuaikan dengan dinamaika aspirasi rakyat. Dalam mengantisipasi perkembangan zaman yaitu dengan jalan menata kembali kebijaksanaan-kebijaksanaan yang tidak sesuai dengan aspirasi rakyat.

Di era reformasi ini, pancasila seakan tidak memiliki kekuatan memengaruhi dan menuntun masyarakat. Pancasila tidak lagi populer seperti masa lalu. Elit politik dan masyarakat terkesan masa bodoh dalam melakukan implementasi nilai-nilai pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab utamanya sudah umum kita ketahui, karena rezim orde lama dan orde baru menempatkan pancasila sebagai alat kekuasaan yang otoriter.
Secara ontologi kesatuan sial-sila pancasila sebagai suatu sistem yang bersifat hierarkis dan berbentuk piramida adalah sebagai berikut: bahwa hakikatnya adanya Tuhan adalah ada karena dirinya sendiri, Tuhan sebagai Causa Prima. Oleh karena itu segala sesuatu yang ada termasuk manusia ada karena diciptakan tuhan atau manusia ada sebagai akibat adanya tuhan (Sila Pertama).

Adapaun manusia adalah sebagai subjek pendukung pokok negara, karena negara adalah lembaga kemanusiaan, negara adalah sebagai persekutuan hidup bersama yang anggotanya adalah manusia (Sila Kedua). Maka negara adalah sebagai akibat adanya manusia yang bersatu (Sila Ketiga). Sehingga terbentuklah persekutuan hidup bersama yang disebut rakyat.

Maka rakyat pada hakikatnya merupakan unsur negara di samping wilayah dan pemerintahan. Rakyat adalah sebagai totalitas individu-individu dalam negara yang bersatu (Sila Keempat). Keadilan merupakan keadilan dalam hidup bersama atau dengan lain perkataan keadilan sosial pada hakikatnya sebagai tujuan dari lembaga hidup bersama yang disebut negara (Sila Kelima).

Pancasila sebagai dasar filsafat negara serta sebagai filsafat hidup bangsa indonesia pada hakikatnya merupakan suatu nila-nilai yang bersifat sistematis, fundamental dan menyeluruh. Maka sila-sila pancasila merupakan suatu kesatuan yang bulat dan utuh, hierarkis dan sistematis. Dalam pengertian nilai inilah maka sila-sila pancasila merupakan suatu sistem filsafat. Konsekuensinya kelima sila bukan terpisah-pisah dan memiliki makna sendiri-sendiri, melainkan memiliki esensi serta makna yang utuh.

Dasar pemikiran filosofis yang terkandung dalam setiap sila dijelaskan sebagai berikut. Pancasila sebagai filsafat bangsa dan negara republik indonesia, mengandung makna bahwa dalam setiap aspek kehidupan kebangsaan, kemasyarakatan dan kenegaraan harus berdasarkan nilai-nilai keutuhan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan.

Filsafaat kenegaraan bertolak dari suatu pandangan bahwa negara adalah merupakan suatu persekutuan hidup manusia atau organisasi kemasyarakatan yang merupakan masyarakat hukum  (legal society). Adapun negara yang didirikan oleh manusia itu berdasarkan  pada kodrat bahwa manusia sebagai warga negara sebagai persekutuan hidup adalah berkedudukan kodrat bahwa manusia sebagai warga negara sebagai persekutuan hidup adalah berkedudukan kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa (hakikat sila pertama).

Nilai-nila pancasila bersifat objektif dapat dijelaskan sebagai berikut : Rumusan dari sila-sila pancasila itu sendiri sebenarnya hakikat maknanya yang terdalam menunjukan adanya sifat-sifat yang umum universal dan abstrak, karena merupakan suatu nilai. Inti nilai-nilai pancasila akan tetap ada sepanjang masa dalam kehidupan bangsa indonesia dan mungkin juga pada bangsa lain baik dalam adat kebiasaan, kebudayaan, kenegaraan, maupun dalam kehidupan keagamaan.

Pancasila yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945, menurut ilmu hukum memenuhi syarat sebagai pokok kaidah yang fundamental negara sehingga merupakan suatu sumber hukum yang positif di indonesia.

Oleh karena itu dalam hierarkhi suatu tertib hukum indonesia berkedudukan sebagai tertib hukum yang tertinggi. Maka secara objektif tidak dapat diubah secara hukum sehingga terlekat pada kelangsungan hidup negara. Sebagai konsekuensinya jika nilai-nilai pancasila yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945 itu di ubah maka sama halnya dengan pembubaran negara proklamasi 1945, hal ini sebagaimana terkandung dalam ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966, diperkuat   Tap.  No. VIMPR/1973. Jo. Tap. No. IXMIPR/1978.

Nilai pancasila yang digali sebagai dari akar budaya dan adat istiadat bangsa indonesia sendiri merupakan pandangan hidup bangsa indonesia, yang kemudian dijadikan Dasar Negara yang secara yuridis formal ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945, yaitu sehari setelah indonesia merdeka. Secara spesifik, nilai pancasila telah tercermin dalam norma seperti norma agama, kesusilaan, kesopanan, kebiasaan, serta norma hukum. Dengan demikian, nilai pancasila secara individu hendaknya dimaknai sebagai cerminan prilaku hidup bangsa sehari-hari yang terwujud dalam cara bersikap dan cara bertindak.

Nilai-nilai Pancasila juga merupakan suatu landasan moral etik dalam kehidupan kenegaraan. Hal ini ditegaskan dalam pokok pemikiran keempat yang menyatakan bahwa negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa berdasar atas kemanusiaan yang adil dan beradab. Hal ini mengandung arti bahwa kehidupan kenegaraan harus didasarkan pada moral etik yang bersumber pada nilai-nilai Ketuhanan yang Maha Esa dan menjunjung moral kemanusiaan yang beradab. Oleh karena itu nilai-nilai Pancasila merupakan suatu dasar fundametal moral dalam kehidupan kenegaraan. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here