Gus Thoyyib: Jadikan Nasab Baik Agar Nasib Jadi Baik - Alhimna

Breaking

Alhimna

Ilhami Dunia Dengan Aswaja

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 02 September 2019

Gus Thoyyib: Jadikan Nasab Baik Agar Nasib Jadi Baik

Haflah Khatmil Qur'an Pesantren Al-Uswah Semarang.
Alhimna.com - Bertepatan dengan awal tahun hijriyah, peringatan haul XV KH. M. Mukhlisin dilaksanakan dan Haflah Khatmil Qur'an Pondok Pesantren Al-Uswah XIX, Ahad (1/9/2019). 

Kali ini khatimin sejumlah 7 (Hendro, Muhammad Jasson Syach Maulana, Difanni Ramadhana, Rendy Danu Ibrahim, Muhammad Nabeel Artajasa, Ersa Agus Setiawan dan Fardhani Lutfian) dan khatimat 11 (Sarah Sabrina Raturani, Ulin Nikmah, Alifya Aprilia, Shofiatul Aulia Primanggita, Fadhila Arsyada, Ihda Lutgia Millatun Nafiah, Tania Naswa Azahra, Naswa Nisrina, Aurel Aprilia Putri Kusuma Gandawati, Devita Ayu Fatmasari dan Wahyu Yulinar Lestari). 

Hadir KH. Abdur Rohim Al-Muhsin, Ketua Jam’iyyatul Muballighin Kota Semarang memberikan ceramah keagamaan.

KH. M. Mukhlisin merupakan pendiri Pesantren Al-Uswah sekarang memasuki generasi kedua. Beliau wafat pada 2004 sedangkan pesantren yang baru dalam tahap rintisan 4 tahun itu kemudian dilanjutkan putera pertama KH. M Thoyyib Farchany. 

Di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Al-Uswah terdiri dari pesantren putra-putri, Taman Pendidikan al-Quran, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Madrasah Diniyah, Majelis Ta’lim, Koperasi Pondok Pesantren.

Sambutan abah mengingatkan tentang pentingnya untuk mendidik generasi muda. Terjadi hubungan yang kuat antara orang tua dan anak agar menjadikan diri kita mulia. Kita menjadi manusia tak bisa instan tanpa dukungan orang tua kita. Terdapat nasib yang kita usahakan agar menjadi baik juga bila kita sudah memiliki nasab yang baik terus kita pertahankan.

"Menjadikan nasab yang baik dengan cara mendoakan pada kedua orang tua kita, agar nasib kita menjadi baik," papar abah Thoyyib.

Gus Rohim selaku penceramah mengajak dalam momen peringatan haul abah Mukhlisin ini untuk menjadi orang yang pinter dan bener. Beliau menjelaskan bahwa abah Mukhlisin dengan dakwahnya semasa beliau hidup telah memiliki “tabungan”. Ketika materi dakwah yang disampaikan itu menjadi pegangan dan dikerjakan akan menjadi pahala mengalir kepada beliau.

“Haul mengingatkan kita pada kematian, siap atau tidak dan berani atau tidak, pasti mati,” tambah Gus Rohim.

Kita mengenang KH. M. Mukhlisin, semoga kita bisa menjadi orang yang dikenang kebaikan ketika meninggal. Bagi orang baik kita akan mati dalam bahasa jawa mati itu nikmat ganti (nikmatnya berganti). Karena kebaikan selama hidup menjadi pahala yang akan kita nikmati dalam kubur. Sedangkan bagi orang berkelakuan buruk dalam bahasa jawa mati itu bongko; diobong neng neraka (dibakar di neraka). Karena keburukan yang dikerjakan seseorang akan dibalas ketika sudah tak bernyawa. Na’udzubillah min dzalik. (az)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here