Guru MI Harus Mampu Menyusun Materi Berbasis Kearifan Lokal - Alhimna

Breaking

Alhimna

Ilhami Dunia Dengan Aswaja

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 30 Juli 2019

Guru MI Harus Mampu Menyusun Materi Berbasis Kearifan Lokal

Prodi PGMI Unwahas gelar FGD Pengembangan Bahan Ajar.
Alhimna.com - Fakultas Agama Islam (FAI) Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Kearifan Lokal di MI Kota Semarang” pada Sabtu-Ahad (27-28/7/2019) lalu.

Dalam kegiatan yang diikuti oleh 30 guru MI di Semarang itu menghadirkan pembicara H. Nur Cholid, Dekan FAI Unwahas. Dalam paparannya, Nur Cholid mengatakan bahwa untuk menyiapkan bahan ajar berbasis kearifan lokal di MI itu penting. Untuk itu lanjutnya guru MI harus mau dan bisa menyusun materi tentang kearifan lokal di MI Kota Semarang atau pun MI di mana guru itu mengajar.

“Sebab bila mengandalkan buku pegangan hasil dari penerbit tentu ketika dikontektualisasikan berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya, itu pun kalau ada,” tambah Dekan FAI Unwahas ini.

Kegiatan yang berlangsung 2 hari dan difasilitasi Hibah Kementerian Agama Republik Indonesia tahun 2019 itu bertujuan agar peserta didik dapat melestarian kearifan local atau local wisdom di daerahnya masing-masing.

Panitia kegiatan, Ali Imron mengemukakan internalisasi local wisdom dapat dilakukan sejak dini yakni sejak usia anak MI. Dengan disampaikan materi tentang local wisdom kepada peserta didik selain dapat melestarikan mereka tidak terjebak pada hal-hal yang bersifat ritual saja namun juga memahami dengan baik nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal di lingkungannya.

Agar materi local wisdom tersampaikan dengan baik tambahnya maka perlu kiranya guru sebagai ujung tombak pelaksanaan pendidikan menyiapkan serta mendesain sedemikian rupa materi yang akan disampaikan dihadapan peserta didik.

Hal lain diuraikan Ma’as Shobirin. Menurut Dosen Unwahas itu banyak hal yang terungkap dalam FGD di antaranya soal kebijakan, SDM guru, bahan ajar cetak (pegangan guru dan peserta didik), waktu dan kesibukan lain baik sebagai guru saat di madrasah atau pun saat sudah di rumah.

Kesempatan itu Ma'as juga menyampaikan akan keprihatinannya terhadap perubahan sikap serta mental peserta didik saat ini karena dampak arus transformasi media elektronik yang luar biasa, mereka mendapatkan pelajaran yang terkadang malah tidak mendidik dan itu jauh dari nilai-nilai kearifan lokal budaya masyarakat kita.

“Anak-anak sekarang lebih menyukai pada hal-hal yang bersifat baru meskipun hal tersebut bertentangan dengan kearifan lokal kita. Maka dari itu, kita semua sebagai guru memiliki tugas yang cukup berat selain mendidik mereka untuk menjadi pintar pada sisi yang lain guru juga dituntut untuk menjadikan anak santun, sopan, baik, ramah, rajin, tidak sombong dan menghargai peninggalan para pendahulu baik berwujud atau pun tidak yakni nilai-nilai luhur yang berlaku di masyarakat tertentu sebagai sebuah kebudayaan,” paparnya.

Salah satu peserta, Mahmudi menyampaikan kendala di lapangan guru tidak mau membuat bahan ajar secara mandiri di antara dipengaruhi kebijakan, terutama kebijakan madrasah itu sendiri. Hal itu bisa disebabkan banyak hal misal kemauan dan keberanian guru mencoba menyusun bahan ajar sendiri, ada juga yang merasa tidak percaya diri dengan bahan ajar disusun sendiri.

Mahmudi juga menambahkan bahwa pengembangan bahan ajar berbasis kearifan lokal di MI ini harus dan menjadi satu keharusan jika tidak ingin nilai-nilai luhur budaya masyarakat ditinggalkan oleh generasi penerus. Sebab apa, anak-anak sekarang sangat tergantung dengan hp, Internet atau gadget yang isinya belum tentu mendidik.

Peserta lain Indra, Kepala MILB Budi Asih menambahkan bahwasanya pengembangan bahan ajar dapat berupa cetak ataupun noncetak, digitalisasi pembelajaran dapat dimanfaatkan guru agar materi yang disampaikan menjadi lebih menarik, nah tinggal muatannya saja yang perlu diperhatikan oleh guru. (ip)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here