Menelusuri Jurang Berlumpur di Pedalaman Papua - Alhimna

Breaking

Alhimna

Ilhami Dunia Dengan Aswaja

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 04 Mei 2019

Menelusuri Jurang Berlumpur di Pedalaman Papua

Gus Nasrul di pedalaman Papua. (Foto: Istimewa)
Alhimna.com - Berbeda dengan umumnya orang bertitel akademisi tinggi. Apalagi yang sudah berada di "zona nyaman". Kebanyakan enggan untuk turun berdakwah di daerah pedalaman yang masih serba susah mulai transportasi, perangkat komunikasi dan sarana prasarana lainnya. Dengan penduduk muslim minoritas.

Tetapi berbeda dengan KH Nasrulloh Afandi, Wakil Katib PWNU Jateng Peraih Doktor Maqashid Syariah Cumm Laude Universitas al- Qurawiyin Maroko itu. Meski domisili di pesantren dengan ribuan santri, dengan fasilitas hidup berkecukupan. Gus Nasrul  ia rela menempuh perjalanan darat dari Bandara Manokwari sejauh 280 kilo.

Di tengah jalan.  Risiko daerah Iklim tropis yang sulit diprediksi. Tiba-tiba mendadak hujan.  Gus Nasrul rela "berlumuran lumpur" menembus jalan berlumpur licin, berbelok, naik turun. Banyak terdapat Jurang. Lumpur sepanjang 17 Kilo di tengah alas itu.

Gus Nasrul, muballigh  terkenal dari Pesantren Balekambang Jepara itu. Ia dan rombongan pun "kelaparan", di tengah hutan itu dan tanpa bekal makanan yang mencukupi. “Karena biasanya kalau tidak hujan. Meski jalan tanah, naik turun dan berbelok-belok itu, dan tidak aspal, bisa dilalui dengan lancer,” tutur Hasan, Panitia yang menjemput Gus Nasrul

Dengan pendampingan pengurus Cabang Ansor dan Banser Kabupaten Teluk Bintuni dan salah satu Wakil Ketua PCNU tersebut. Mulai dari Jam 15 WIT (siang) hingga pukul 23 Malam, terjebak di tengah hutan. Mobil yang dinaikinya jenis dobel gardan tidak bisa bergerak. Ditambah sejumlah mobil lain yang terjebak. Karena jalan yang  berlumpur itu satu-satunya jalur penghubung antara Kabupaten Manokwari ke Kabupaten Teluk Bintuni.

Ratusan kilo jalur yang beraspal pun yang terletak sebelum jalan berlumpur itu, berada di pinggir gunung dengan ketinggian puluhan meter di atas  permukaan laut. Jika terpleset sedikit berisiko jatuh ke laut atau jurang. Total perjalanan Gus Nasrul dari bandara Semarang Jateng hingga sampai ke tujuan nampir dua hari dua malam.

Beberapa tahun silam. Almarhum al-maghfurlah Habib Mundir Al-Musawwa, Pimpinan Majlis Rasul Jakarta pernah berdakwah ke sini dan membawa sejumlah anak pribumi papua Barat untuk belajar ngaji di sejumlah pesantren di Jawa. Kini sejumlah anak murid Habib Mundir
tersebut telah menjadi remaja bergabung dengan GP Ansor Banser. Dan aktif mendampingi Gus Nasrul selama berdakwah di daerah tersebut.

Dengan menempuh perjalanan panjang itu. Selain ada beberapa agenda. Agenda inti Gus
Nasrul untuk memenuhi undangan  dari PCNU, PC GP Ansor, PC Fatayat NU Kabupaten Teluk Bintuni tanggal 1 Mei 2019. Dalam rangka Harlah NU, Ansor-Banser dan Fatayat.

PCNU Berdiri Sejak 1996
Menurut KH Imam Syafi'i, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Teluk Bintuni Papua Barat sejak PCNU Kabupaten Telukbintuni Papua Barat ini berdiri ini baru kali pertama ada acara akbar di lapangan terbuka.

Dan ini juga merupakan kunjungam pertama NU strukruktural dari Jawa. Yaitu Gus Nasrul, Wakil Katib PWNU Jateng yang juga pengurus Pusat Ikatan Sarjana NU. “Sebelumnya belum pernah PCNU kami dikunjungi oleh Struktural NU sekelas PWNU, termasuk PWNU papua juga belum pernah. Semoga ke depan Pengurus Besar NU juga berkenan berkunjung ke daerah kami,” tutur kiai Syafi’i.

Zaka, ketua panitia mengatakan sebelumnya pihaknya mengajukan undangan kepada sejumlah muballigh dari Jawa. Tetapi semua tidak ada yang siap karena faktor lokasi yang sulit dijangkau. 

“Alhamdulilah Gus Nasrul, sang doktor cumm laude lulusan universitas luar negeri beliau bersedia hadir.”

Pihaknya juga sebelumnya sudah banyak menerima info bahwa Gus Nasrul adalah doktor yang senang mengisi pengajian di mushala, masjid, majlis ta'lim kampung pedalaman. Dengan ceramah-ceramah yang menyejukkan.

Dalam pengajian kesempatan tersebut Gus Nasrul menyerukan perlunya persatuan dan kerukunan dalam bermasyarakat di daerah Papua yang muslim minoritas ini. Apalagi di Kabupaten Teluk Bintuni yang merupakan pedalaman Papua Barat banyak terdapat pendatang dari berbagai daerah dengan multi etnis. “Beragam tradisi. Jangan sampai ada gesekan SARA. Meskipun berbeda-beda agama dan atau sukunya. Inilah inti ajaran Islam yang mengayomi semua manusia,” papar Gus Nasrul

“Kami akan senang jika banyak doktor NU seperti Gus Nasrul, yang aktif berdakwah di pedalaman dengan penduduk muslim minoritas,” harap Zaka. (ip)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here