Makam Raden Tumenggung Sumodiningrat Wedono Lebet - Alhimna

Breaking

Alhimna

Ilhami Dunia Dengan Aswaja

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 01 Maret 2019

Makam Raden Tumenggung Sumodiningrat Wedono Lebet

Maulana Habib Luthfi bin Yahya.
Alhimna.com - Nama asli beliau adalah Al Allamah Al Arif Billah Al Habib Hasan bin Thoha Bin Yahya, secara nasab beliau masih keturunan Al Quthb Habib Syech bin Ahmad bin Yahya.

Seorang wali quthb yang mastur dan terkenal ahli menghentikan segala macam bentuk pertikaian dan perpecahan, beliau juga merupakan datuk Syaikhina Maulana al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya.

Berikut ini adalah silsilah Maulana Habib Luthfi yg bersambung sampai kepada Habib Hasan, Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Umar bin Thoha bin Hasan bin Thoha bin Yahya.

Beliau adalah putra Habib Thoha Bin Muhammad Qodli bin Thoha bin Muhammad bin Syekh bin Ahmad bin Yahya, seorang ulama yang allamah dan sekaligus seorang pejuang yg gigih melawan penjajah Portugis.

Dulu ketika beliau baru pulang dari tanah suci Makkah dan singgah di Malaka, saat itu Malaka sedang melakukan pertempuran melawan Portugis. Oleh Sultan Malaka, Habib Thoha di minta untuk membantu mengusir penjajah Portugis.

Beliau langsung bergegas menuju tepi pantai untuk memberi peringatan kepada kapten kapal perang Portugis agar tidak mendaratakan kapal perangnya ke pelabuhan, namun mereka mengabaikan peringatan dari beliau.

Akhirnya dengan keramatnya Habib Thoha, air laut yg sebelumnya tenang tiba-tiba berubah menjadi badai ombak besar setinggi pohon kelapa menggulung dan menghantam kapal perang portugis dan membuatnya hancur berkeping-keping. Tapi anehnya tidak ada satu awak dan penumpang kapal yang tewas, semuanya selamat mereka hanya pingsan dan terdampar di tepi pantai.

Salah satu kebiasaan Habib Thoha adalah mengenakan cadar, konon wajah beliau kerap kali memancarkan cahaya yang sangat terang dan saking terangnya pancaran cahaya wajah beliau tidak ada orang yang sanggup memandang wajah beliau. Habib Thoha wafat di Penang Malaysia dan di makamkan di sana.

Habib Hasan juga memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga keraton Yogyakarta, karena beliau adalah menantu Sultan Hamengku Buwono 2 atau ipar dari Sultan Hamengku Buwono 3 (ayahnya Pangeran Diponegoro). Dengan demikian jika ditinjau dari hubungan kekerabatan, Raden Tumenggung Sumodiningrat atau Habib Hasan adalah paman dari Pangeran Diponegoro.

Perjuangan beliau melawan penjajah Belanda bermula di Banten, saat itu Banten dipimpin oleh Sultan Rofiuddin. Habib Hasan di samping sebagai mufti kesultanan Banten beliau juga seorang pejuang yang gigih melawan penjajah Belanda.

Atas kegigihan dan keberaniannya melawan penjajah beliau dijuluki sebagai Singa Barong, setelah berjuang di Banten beliau melanjutkan dakwah dan perjuangan ke Pekalongan. Di sana beliau membangun pesantren di desa Nglesok, beliau dan para santrinya terus melakukan perlawanan terhadap Belanda. Setelah itu beliau melanjutkan perjalanannya ke Semarang.

Kisah keberanian dan kegigihan Habib Hasan melawan penjajah ternyata terdengar oleh Sultan Hamengku Buwono 2 dan membuat sang Sultan Takjub atas kegigihan dan keneraniannya melawan penjajah akhirnya Habib Hasan di angkat menjadi menantu Sultan Hamengku Buwono 2. Di samping menantunya Habib Hasan juga di angkat sebagai senopati agung Mataram.

Selaku panglima perang, Habib Hasan memimpin pasukan yang jumlahnya mencapai 15 ribu prajurit yang terbagi menjadi tiga bagian. Lima ribu prajurit untuk pasukan darat. Dan lima ribu lagi untuk pasukan laut dan sisanya untuk pasukan cadangan.

Habib Hasan bersama sahabatnya yaitu Raden Ronggo Prawiroddirjo (ayah Raden Sentot Prawirodirjo) saling bahu-membahu mempertahankan wilayah Yogyakarta dari agresi militer Belanda. Berkat kecerdikan beliau dalam mengatur strategi perang. Belanda seringkali mengalami kegagalan untuk menguasai wilayah Yogyakarta.

Karena merasa kesal dengan Habib Hasan yang selalu menghalangi Belanda untuk menguasai wilayah Yogyakarta akhirnya Belanda menggunakan siasat licik mereka menyuruh orang-orang bayaran untuk menyamar sebagai Raden Tumenggung Sumodiningrat atau Habib Hasan. Orang-orang bayar ini ditugaskan untuk gemar mabuk-mabukan dan main judi.

Tujuannya adalah untuk menghancurkan reputasi dan nama baik beliau dan supaya rakyat Mataram membenci sosok Raden Tumenggung Sumodiningrat atau Habib Hasan. Namun berkat kesigapan beliau dalam mengatasi masalah semua siasat licik Belanda untuk menghancurkan nama baiknya berhasil digagalkan.

Semenjak Habib Hasan menetap di Mataram beliau mendirikan perguruan pencak silat. Perguruan pencak silat ini diberi nama oleh beliau dengan nama pencak silat Capit Ular. Sebelum wafat, Habib Hasan menyerahkan perguruan pencak silatnya kepada putranya yaitu Habib Thoha Ciledug Cirebon (penyusun Rotibul Kubro).

Di bawah kepemimpinan Habib Thoha perguruan pencak silatnya di ganti namanya menjadi Sipedi. Habib Hasan wafat pada tahun 1818 M dan di makamkan di depan pengimaman masjid Al Hidayah taman Dukuh Lamper, Semarang. Wallahu a'lam bish shawab. (*)

(Kisah ini dipaparkan oleh Syaikhina Maulana al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Umar bin Thoha bin Hasan bin Yahya Pekalongan pada pengajian Ramadhan tahun 1434 H/2013 M)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here