Di Indonesia Sudah Biasa Memanggil Non Muslim - Alhimna

Breaking

Alhimna

Ilhami Dunia Dengan Aswaja

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 01 Maret 2019

Di Indonesia Sudah Biasa Memanggil Non Muslim

Headline Jawa Pos.
Oleh : Li Ruhim, Anggota Lakpesdam Jawa Barat

Dalam tatakrama sehari-hari kaum Muslimin Indonesia memanggil orang di luar Islam dengan “panggilan” non muslim. Yang perlu diperhatikan ialah “memanggil, menyahut” dengan sebutan “non muslim”. Bukan berarti kita mengingkari adanya kekafiran sebagaimana dalam Qur’an dan Hadits secara jelas.

Contoh analogi dalam masalah etika. Si A korupsi dengan bukti-bukti meyakinkan di pengadilan. Ia dipenjara. Lalu kita bertemu dengannya, apakah kita menyapanya dengan panggilan: “koruptor”? Kan tentu tidak. Kita memanggilnya dengan panggilan yang tidak menyinggungnya. Kalau kebetulan si A itu ustad, lalu Anda memanggilnya: “Pak Ustad, damang?” Apakah dengan kata panggilan “Ustad” berarti Anda menafikan status ia seorang koruptor? Pasti tidak.

Lalu Saudara bertanya: berarti al Quran tidak mengajarkan etika dengan menyebut Kafir bagi orang yang tidak beriman? Bukan begitu konteksnya Bro. Al Quran membagi manusia Mukmin dan Kafir dalam konteks “status hukum aqidah.” Yakni bahwa ini Mukmin bla bla bla... bahwa ini kafir bla bla bla...

Aaah yang betuuul? Iya! Sebab dalam konteks kemanusiaan secara umum al Qur’an sering menggunakan panggilan: يا أيها الناس (Wahai Manusia) kepada kafir kafir Quraisy Mekah. Silahkan lihat kitab tafsir! Persis dengan Hakim atau Jaksa di pengadilan menyebut terdakwa dengan status “koruptor”. Dan selesai sidang, maka Hakim kembali akan menyapa: Pak A, Pak B dst...

Kafir itu hal yang dharuri (gamblang); bukan Mukmin. Itu saja. Namun jika direnungkan secara semantik, sesungguhnya sebutan “Non Muslim” lebih memojokkan, karena non muslim berarti: Manusia tidak selamat, alias orang celaka. Sedangkan lafazh كفر (kafaro) derivasi kata yang dibangun darinya tidak selalu berkonotasi buruk. Adakalanya baik. Perhatikan al Quran surat Shod ayat 20:

كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ
“Seperti hujan dimana tetumbuhan yang disebabkan olehnya mengagumkan para petani.” Perhatikan lafal الكفار (al Kuffâr) artinya “para petani”. Padahal satu akar kata dengan lafazh kâfir.

Jadi bahtsul masail kaum Nahdliyin sesungguhnya tidak membahas hal yang tabu. Apalagi dituduh sekuler dan mengingkari al Quran. Kita mesti memahami semantik kata kafaro lalu ditingkatkan dalam konteks yang dinamis dengan tidak melucuti kaidah Ushul Fiqih. Wallahu’alam bishawab. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here