Nasionalisme Nahdlatul Ulama - Alhimna

Breaking

Alhimna

Ilhami Dunia Dengan Aswaja

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 11 Februari 2019

Nasionalisme Nahdlatul Ulama

Nasionalisme NU.
Judul : Nasionalisme NU
Penulis : Zudi Setiawan
Pengantar : Drs. KH. Muhammad Adnan, M.A.
Prolog : Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siradj, M.A.
Epilog : Prof. Dr. H. Mudjahirin Thohir, M.A.
Penerbit : PT Aneka Ilmu
Kajian tentang Nahdlatul Ulama (NU) seakan tiada pernah ada habisnya. Entah berapa buku yang sudah diterbitkan. Para cerdik pandai dari dalam maupun luar negeri mengkaji NU dari berbagai segi dan dimensinya. Sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia atau bahkan di dunia, tentu banyak sisi yang menarik dan patut untuk dikaji secara mendalam. Dan, hal itu absah saja dalam dunia akademis. Di antara yang menarik itu adalah dimensi politik NU, mengingat peran NU yang cukup besar dalam kancah perpolitikan nasional.

Sejak awal berdiri, NU memainkan peran politik yang khas dan mengesankan. Politik NU adalah politik yang berwawasan kebangsaan (nasionalisme). Kenyataan demikian setidaknya dapat dilihat dari Muktamar NU tahun 1936 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. 

Saat itu, NU menetapkan bahwa daerah Indonesia, yang masih dikuasai pemerintah Hindia Belanda, adalah dar al-Islam(negeri muslim). Karena itu, wajib dilindungi dan dipertahankan siapa pun penghuni negeri ini, termasuk umat muslim. Jauh sebelum Indonesia medeka, spirit nasionalisme telah melekat erat pada citra diri NU.

Spirit kebangsaan NU seperti di atas mengacu pada kenyataan sejarah dan budaya Nusantara. Paham demikian, dengan sendirinya, menyiratkan semangat menghargai tradisi, pluralitas budaya, dan martabat manusia sebagai mahluk berbudaya. Dalam perspektif kebangsaan semacam ini, lokalitas mendapatkan tempat terhormat, yang dalam nasionalisme Eropa cenderung tergeser, bahkan tersisihkan ke batas akhir kepunahan atas nama modernitas.

Pada Muktamar NU di Situbondo, Jawa Timur, tahun 1984, misalnya, NU telah menegaskan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berlandaskan Pancasila dan Undang-undang Dasar (UUD) 1945 adalah bentuk final perjuangan umat Islam. 

Karenanya, tidak diperlukan lagi bentuk negara apa pun dalam negeri ini, meski itu negara Islam. Dan, ketika negara otoriter Orde Baru berusaha memecah-belah kekuatan rakyat dan membatasi berbagai kelompok agama, etnis, dan ras tertentu, NU tampil gigih sebagai pembela rakyat tertindas dan kelompok-kelompok minoritas. Inilah yang dikatakan Daniel Dhakidae pada medio 1990-an, NU adalah "the last bastion of civil society",benteng terakhir masyarakat sipil dalam menghadapi negara.

Dari sini, tampak jelas kecintaan dan pembelaan NU terhadap NKRI cukup besar. Perjalanan NU yang bermula dari sebuah kelompok kajian pencerahan Tashwirul Afkar (1914), kemudian berkembang menjadi Nahdlatut Tujjar (1916), Nahdlatul Wathan (1924), sampai akhirnya menjadi NU (1926), hakikatnya pun tidak pernah terlepas dari spirit nasionalisme itu. Sepanjang usianya, NU selalu mengembangkan mainstream ke-Indonesia-an yang dijiwai semangat ke-Islam-an yang inklusif dan kultural.

Dengan demikian, buku Nasionalisme NU karya Zudi Setiawan ini menjadi semakin jelas arahnya. Helai demi helai halamannya dipenuhi data-data yang akurat. (Titik Suryani, dalam NU Online)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here