Gus Muwafiq: Maulid Kebangsaan itu Model Baru - Alhimna

Breaking

Alhimna

Ilhami Dunia Dengan Aswaja

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 30 Desember 2018

Gus Muwafiq: Maulid Kebangsaan itu Model Baru

Ngaji bersama Gus Muwafiq. (Foto: Istimewa)

Alhimna.Com - Pengajian dalam rangka Khataman Safari Maulid Nabi Muhammad SAW MWCNU Kecamatan Patean dan Pesantren Assalafiyyah An-Nahdliyah Curug Sewu Patean Kendal yang diselenggarakan MWCNU, GP Ansor, serta Fatayat kecamatan Patean, Jumat (28/12/2018).

Pengajian diselenggarakan setiap tahun sekali tiap khataman maulud. Jamaah pengajian datang dari berbagai daerah dari Purwosari Gunung Prahu, Pantura Kendal sampai Semarang. Jamaah yang datang selain menghadiri pengajian, juga kagum dengan Gus Muwafiq yang terkenal dengan mauidlahnya di sosial media.

Pengajian juga dihadiri Muspika Kecamatan Patean Camat, kapolsek, dan kepala desa.

Pengasuh Pesantren KH Ahmad Rojin mendukung pengajian rutinan tiap tahun itu. "Dengan adanya pengajian maulud ini selain menambah ilmu juga memperkuat rasa ukhuwah antar sesama warga nahdliyin karena di pengajian umum ini masyarakat bisa ketemu dan guyonan bareng dengan masyarakat dan banom NU lain," tuturnya.

Statemen itu juga diperkuat kepala desa. "Saya sangat mendukung dengan acara pengajian yang mendatangkan penceramah yang luar biasa yang penyampaiannya sangat cocok bagi santri-santri muda zaman now," katanya. 

Pada pukul 22.44 wib Gus Muwafiq tiba di lokasi dan langsung disambut hadrah dan shalawat. Setelah itu ia bercerita tentang perjalanan sampai di Patean dan disambung dengan mauidlahnya tentang Maulid dan Kebangsaan.

Pengajian bersama Gus Muwafiq dipadati jamaah. (Foto: Istimewa)
"Maulid kebangsaan itu cocok sebab lahirnya kanjeng nabi itu 571 M. Nabi Muhammad khoirul anbiya wal mursalin (tutupan para nabi). Maulid kebangsaan itu model baru, sebab lahirnya nabi itu umat Islam mendunia,” tandasnya.

Nabi adam sambungnya belum cocok untuk jadi tema maulid kebangsaan sebab hanya ada 2 manusia yaitu hanya Adam dan Hawa. Nabi Idris umatnya sedikit hanya 1 desa. Nabi Nuh umatnya hanya 1 suku. Sampai Nabi Musa umatnya hanya 1 negara.

“Saat Nabi Muhammad umatnya menjadi 1 dunia, maka itu cocok dengan maulid kebangsaan. Mauludan itu tiap daerah berbeda-beda, contohnya mauludan yang dirayakan dengan kebudayaan menjadi ciri khas tiap daerah. Pengajian dengan maulidan itu model baru, kalau maulidan yang autentik itu isinya hanya makan-makan saja."

Beberapa cuplikan mauidlahnya yang dibarengi guyonan menggelitik membuat jamaah lupa dengan rasa kantuknya.

Pengajian berjalan khidmat, sebelum doa penutup Gus Muwafiq berpesan "manusia harus saling bertanggung jawab jangan hanya menangkan ego sendiri."

Pengajian diakhiri iringan hadrah para santri pondok. Jamaah putra saling berebut bersalaman dengan Gus Muwafiq yang turun dari panggung yang dikawal oleh Banser. (da)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here