Ada Diskusi "Medsos" di Majelis Taklim Rijalul Ansor - Alhimna

Breaking

Alhimna

Ilhami Dunia Dengan Aswaja

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 13 Oktober 2018

Ada Diskusi "Medsos" di Majelis Taklim Rijalul Ansor

Diskusi Rijalul Ansor bersama M. Abdullah Badri. (Foto: Alhimna.Com)
Alhimna.Com - PAC GP Ansor Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara menyelenggarakan Majelis Taklim dan Shalawat Rijalul Ansor bertempat di Masjid Jamik Al Muttaqin Desa Cepogo Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara, Jumat (12/10) siang.

Dalam kegiatan yang diikuti puluhan Ansor dan Banser ini juga diisi dengan diskusi bertema "Merayakan Kebenaran Tanpa Hoaks" yang dipaparkan M. Abdullah Badri.

Sesuai dengan paparan Wakil Sekretaris LTN PCNU Jepara ini bahwa kebenaran yang awalnya obyektif saat ini malah berubah sebaliknya.

"Kebenaran sekarang ini mengikuti keyakinan masing-masing. Sehingga kebenaran yg mulanya memiliki prinsip objektivitas berubah menjadi subjektivitas," tandasnya.

Hal itu sebut pria yang akrab disapa Kang Badri sebagaimana  termaktub dalam ilmu filsafat disebut post truth (pasca kebenaran).

Didampingi H. Noor Rois (Ketua PAC GP Ansor Kembang) dan sejumlah kiai yang hadir, dia menegaskan bahwa dalam algoritma (pemrogaman) facebook sama sekali tidak dikenal kebenaran.

"Yang ada like dan dislike. Suka maupun tidak suka," tandas pria berambung gondrong itu.

Sehingga hal itu lanjutnya sangat berbahaya.

"Kubu pak Jokowi tidak suka dengan kubu Pak Prabowo. Dan sebaliknya." Begitu imbasnya, kata dia sebagai contoh di tahun politik ini.

Selain medsos sambungnya tidak menyuarakan kebenaran, info di fb yang sering muncul sesuai kesenangan pemilik akun medsos tersebut.

"Suka buka porno maka yang sering keluar yang porno-porno. Suka dengan ustad nanti yang sering muncul ya ustad-ustad."

Dengan kondisi itu maka putra Kiai Badri ini menyentilnya dengan istilah post crut (pasca nge-crut).

Dulu urainya saat masih di era kertas orang sibuk baca koran. Pembaca statusnya hanya konsumen.

"Namun sekarang di era digital pengguna fb sudah menjadi prosumen, ya produsen ya merangkap konsumen," terang alumnus MA NU TBS Kudus itu.

Nah pada titik inilah subjektivitas berlaku karena pandangan pribadi dinilai sebagai kebenaran.

"Kalo zaman dahulu Imam Bukhari dalam meriwayatkan hadits butuh waktu berbulan-bulan. Sekarang banyak personal-personal yang setiap hari ngeshare one day one hadits. Yang begitu ya ada," prihatinnya.

Begitu juga kabar yang paling terbaru soal qiraah sabah yang dianggap sesat. Jika disuruh menjelaskan dia meyakini tak bisa menjelaskan dengan ilmiah.

"Orang gampang menyesatkan. Yang tak sesuai dengan pandangannya sesat, bidah dan masuk neraka," tegasnya.

Di zaman semakin derasnya arus informasi memang tidak bisa dicegah, Kang Badri mengajak Ansor dan Banser agar menguatkan barisan agar yang lain semeleh, menyerah. (ip)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here