Ta'dhimnya Mbah Abdullah Hadziq Balekambang (2) - Alhimna

Breaking

Alhimna

Ilhami Dunia Dengan Aswaja

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 23 Mei 2018

Ta'dhimnya Mbah Abdullah Hadziq Balekambang (2)

Cerita Habib Luthfi kepada penulis. (Foto: Istimewa)

Alhimna.Com – Layaknya seorang santri, Yik Luthfi, panggilan akrab Habib Luthfi oleh Mbah Dullah saat mondok di Balekambang tahun 1961. Yik Luthfi berbaur dengan santri-santri lainnya tidur gelasaran di lantai pondok.

Saya seakan-akan ikut hanyut pada masa di mana Habib Luthfi mondok di Balekambang. Habib menceritakan dengan detail bagaimana Mbah Dullah "open”dan“telaten" kepada para santri-santrinya.

Yang jarang dimiliki oleh kiai lain adalah Mbah Dullah jika memanggil santri-santrinya tidak"gapah" tapi dihormati dengan menyebut "kang". Setiap santrinya dipanggil dengan panggilan kang.

Mbah Dullah sangat disiplin dan istiqamah dalam mendidik santri-santrinya. Hal ini beliau lakukan karena memang beliau itba' gurunya Mbah Hasyim Asy'ari saat mondok di Jombang.

Kedisiplinan beliau tertempa saat Resolusi Jihad NU dan meletus perang 10 November beliau ditugasi Mbah Hasyim secara khusus mengamankan dan menyiapkan logistik para pejuang melawan pasukan NICA di bawah pimpinan Inggris. Sejarah kecil ini terlupakan oleh banyak orang.

Di sela cerita Habib yang mengagumkan beliau melanjutkan ceritanya. Mbah Dullah pada waktu lenggang mengajak "mayoran" santri-santrinya. Dan sebagai sebuah tradisi santri Balekambang saat itu, jika Mbah Dullah ngajak mayoran maka para santri langsung berhamburan mengambil pancing untuk mincing ikan lele, bethik, kuthuk dan ikan apa saja di sungai belakang pondok yang selanjutnya dimasak bareng untuk mayoran santri-santri.

Memasuki bulan Ramadhan banyak santri berdatangan untuk ikut mengaji posonan bersama Mbah Dullah. Habib melanjutkan ceritanya saat bulan Ramadhan yaitu ada peristiwa yang menyenangkan bagi diri Habib.

Saat semua santri santri tidur di lantai. Habib Luthfi tidur di bawah kenthongan pondok. Sebagaimana kebiasaan pondok. Saat Subuh tiba santri menabuh kenthongan lebih lama bak musik enak renyah, dan Habib Luthfi kaget lalu bangun yang dikiranya ada musik secara reflek Habib menari dan Mbah Dullah tertawa lepas melihat Habib Luthfi reflek menari saat kenthongan ditabuh.

Betapa bahagianya Habib Luthfi memandang guru kinasihnya tertawa lepas. “Baru kali ini saya melihat guruku tertawa lepas yang biasanya kulihat selalu tersenyum,” kenang Habib Luthfi.

Sungguh, cerita ini ibrah bagi kita untuk saling mengasihi, menyayangi dan menghormati satu sama lain lintas jabatan, lintas umur dan lintas gelar.

Diawali dengan membiasakan memanggil seseorang siapa pun dengan pilihan panggilan nama yang menyenangkan bukan panggilan yang   "gapah" hanya menyebut nama atau justru dengan sebutan panggilan yang jelek. Maka kekuatan persaudaraan akan terjalin indah sampai akhir hayat.

Semoga kita, dan anak cucu kita bisa meneladani ahlaqul karimah Mbah Abdullah Hadziq. Amin. (*)

__H. Hisyam Zamroni, Wakil Ketua PCNU Jepara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here