Pesta Baratan, Tradisi Nguri-nguri Budaya Jepara - Alhimna

Breaking

Alhimna

Ilhami Dunia Dengan Aswaja

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 02 Mei 2018

Pesta Baratan, Tradisi Nguri-nguri Budaya Jepara

Prosesi doa bersama dalam pembukaan Pesta Baratan 2018.
Alhimna.Com - Tradisi Pesta Baratan yang sudah dilanggengkan oleh warga Kalinyamatan kabupaten Jepara merupakan nuansa untuk nguri-nguri budaya.

Demikian diungkapkan Kiai Nurul Fawaid saat mengisi mauidlah di hadapan jamaah masjid Al Makmur desa Kriyan kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara, saat pembukaan Pesta Baratan 2018, Ahad (29/4/2018) malam.

Budaya menurut pemaparannya ialah berasal dari kata budi dan daya. Jika diterjemahkan daya, imajinasi, perkataan dan kegiatan yang dikemas dengan baik.

Prosesi tersebut merupakan pembuka dari kegiatan Pesta Baratan tahun 2018 yang diselenggaraka oleh Yayasan Lembayung Kalinyamatan. Sebelum mauidlah diawali juga dengan pembacaan tahlil dan doa yang dipimpin langsung KH Kahar Mudzakir, takmir masjid Al Makmur.

Sejak kegiatan tahunan tersebut dirintis tahun 2004 lalu start arak-arakan sosok Ratu Kalinyamat dimulai dari masjid yang berada di desa Kriyan ini.

“Sehingga meski tahun ini start kegiatan tidak di depan masjid ini karena untuk mengurangi kemacetan tetapi di sini tetap dipenuhi pengunjung. Karena Kriyan adalah bagian dari sejarah Ratu Kalinyamat,” jelas pengurus MWCNU Kalinyamatan ini.

Di samping itu kepada Camat, Kapolsek dan Danramil serta jamaah ia menjelaskan dulu diawal dirintisnya kegiatan tersebut dibarengkan dengan 15 Syakban (Nifsu Syakban). Sekarang dilaksanakan sehari sebelumnya.

“Tujuannya biar semua bisa dilakukan. Tanggal 14 syakban bisa mengikuti tradisi Baratan. Tanggal 15 Syakban bisa berdoa nisfu syakban dengan khusuk.”

Baratan sendiri berasal dari baraatan yang artinya lepas atau merdeka. Menjelang datangnya Ramadhan hati manusia harus terbebas dari dosa. Jajanan yang dibuat dan dihidangkan saat nisfu syakban ialah puli. Puli masih kata dia itu memuli/ memuji ala bidikrilllah.

Dulu zaman old sebelum ada listrik di momen tersebut juga banyak yang menyalakan dilah (lampu penerang). “Dilah, wedi marang gusti Allah, takut kepada Allah,” lanjutnya.

Teatrikal "Trus Karya Tataning Bumi" mampu menghipnotis ribuan pengunjung.
Yang tak kalah penting di nisfu syakban imbau Kiai Fawaid harus ingat kepada para leluhur. Karena itu, tradisi yang positif tersebut lanjutnya harus diuri-uri dengan bekerjasama dengan pemerintah, dan masyarakat luas.

Usai prosesi pembukaan Pesta Baratan, kegiatan dilanjutkan dengan arak-arakan simbol Ratu Kalinyamat dari depan KUD Margoyoso menuju ke lapangan Banyuputih yang dilepas Camat Kaliyamatan.

Sejak Isyak 3 desa di Kecamatan Kalinyamatan yakni Margoyoso, Kriyan, Banyuputih dan sekitarnya penuh sesak dipenuhi pengunjung. Mereka datang dari berbagai penjuru untuk memeriahkan gawe yang dihelat Yayasan Lembayung Kalinyamatan tersebut.

Sampai di panggung utama di lapangan Banyuputih penonton yang berjumlah ribuan itu dihibur dengan teatrikal yang disutradai Abdi Munif dengan judul “Trus Karya Tataning Bumi” serta diiringi warna-warni music dan music pembuka angluistic. (ip)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here