Kitab Tiryaq Al Mujarrab, Istighatsah Kaya Fadlilah - Alhimna

Breaking

Alhimna

Ilhami Dunia Dengan Aswaja

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 04 Mei 2018

Kitab Tiryaq Al Mujarrab, Istighatsah Kaya Fadlilah

Kitab Tiryaq karya Syekh Mahmud. (Foto: Alhimna.Com)
Alhimna.Com - Nadzam istighatsah tiryaq al mujarrab yang dikarang oleh Syekh Mahmud Muhtar Asserboni merupakan salah satu kitab yang dikarang seorang alim dari Cirebon, Jawa Barat.

Menurut salah satu cerita, kitab itu dikarang Syekh usai menulis kitab biografi Syekh Abdul Qadir Al Jilani. Kiai yang terkenal mengarang banyak kitab itu mendapat ilham dari Allah kemudian muncullah kitab tersebut.

Meski muda ia sudah dipanggil Syekh. Konon yang memberikan panggilan itu ialah KH Masduki (Lasem). Panggilan Syekh yang diberikan Kiai Masduki tidak asal-asalan. Kenapa demikian? Meski terbilang masih muda ia tergolong orang yang pintar dan mempunyai banyak karamah.

Apa saja karamah-karamahnya? Syekh Mahmud bisa dihilang juga bisa melipat bumi. Pada zaman PKI menurut cerita saat mengusir mereka hanya dengan batang pohon pisang yang fungsinya seperti sebilah pisau.

Karamah lain yang dirasakan oleh santri ialah menjelang Syekh wafat. Para santri tua dipanggil Syekh untuk bersama-sama mengaji kitab Jamius Shagir. Anehnya Syekh dan para santri sama-sama menghadap qiblat. Ini sebagai firasat bahwa tak lama kemudian Syekh benar-benar dipanggil Allah SWT.  

Tentang Tiryaq
Kiai Ali Subhan yang merupakan salah satu muridnya menuturkan bahwa Tiryaq adalah satu bentuk istighatsah. Bentuk tawasul kawula (abd) kepada gusti (Allah).

Kiai muda yang mulai mengaji kepada Syekh sejak 1991 lalu menjelaskan tawasul yang dimaksud, di dalam kitab itu tawasul ditujukan mulai kepada nabi, malaikat, sahabat, wali kutub, wali abdal hingga wali autad.

Siapa pun yang punya hajat, kata kiai yang mukim di desa Sinanggul kecamatan Mlonggo kabupaten Jepara itu bisa mengamalkannya. Karena kitab ini diijazahkan untuk kalangan umum.

“Bagi yang punya hajat silakan dalam satu majelis membaca tiryaq 7 hingga 21 kali,” kata Kiai Ali di rumahnya, Jumat (4/5/2018).

Yang patut diingat, jika ingin mendawamkan (kontinyu) maka pembaca harus yakin, bahwa dengan husnudlon kepada Allah SWT bagi yang membaca atau sekadar membawanya pada saat bepergian akan senantiasa bersih hatinya juga mendapat rahmat serta berkah dari Allah.

Fadlilah Istighatsah
Di antara fadlilah mengamalkan istighatsah itu akan disenangi dan semakin berwibawa (punya charisma) di hadapan orang lain. Fadlilah lain di hati akan memancar ilmu makrifat serta ilmu hikmah.

Ditambahkan kiai yang lahir di Jepara, 13 November 1969 itu Allah akan mengutus rijalul ghaib yang akan selalu menjaga baik saat tidur maupun saat beraktivitas.

Kiai Ali Subhan santri Syekh Mahmud dari Jepara. (Foto: Alhimna.Com)
Dengan wasilah (lantaran) nabi dan aulia, pendawam istighatsah itu juga akan dibukakan pintu ekonomi dan rezeki. “InsyaAllah menjadi kaya tanpa menggantungkan orang lain.” tandasnya.

Adapun fadlilah yang lain diberikan pertolongan Allah untuk menaklukkan musuh baik yang berupa jin maupun manusia, dijauhkan dari balak serta bencana juga dikabulkan tujuan dan hajatnya sekaligus akan diampuni dosa dan InsyaAllah husnul khatimah.

Jejak Syekh di Jepara
Semasa masih hidup Syekh Mahmud pengasuh pesantren Darul Ulum Asyariah Cirebon terbilang sering mampir ke Jepara. Di antara ulama Jepara yang pernah ditemuinya ialah KH Muchlisul Hadi, KH Ahmad Kholil, KH Baidlowi, KH Sahil dan sejumlah kiai-kiai yang lain.

Kerawuhan beliau ke Jepara bukan hanya sekadar mampir tetapi pernah pula mengaji kitab Bukhari di salah satu kiai yang dikunjunginya tersebut.

Kiai Ali Subhan yang juga merupakan guru MA Annawawiyah merupakan salah satu yang meneruskan jejak Syekh di Jepara. Waktu masih di pondok ia mendawamkan istighatasah itu setiap hari selepas shalat Ashar.

Sepulang dari pondok ia berinisiatif mendawamkan di kampungnya. Mulai tahun 1999 sampai sekarang di kampungnya desa Sinanggul kecamatan Mlonggo kabupaten Jepara dirutinkan membaca tiryaq setiap malam Senin dan malam Rabu. Itu dilakukan di mushalla kampung serta di pesantren yang dikelolanya.  

Selain di Sinanggul di desa Margoyoso, kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara juga ada perkumpulan yang sama. Di desa itu kegiatan dilaksanakan setiap malam Jumat. (ip)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here