KH Ahmad Fauzan, Kiai Pejuang Kemerdekaan - Alhimna

Breaking

Alhimna

Ilhami Dunia Dengan Aswaja

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 12 Mei 2018

KH Ahmad Fauzan, Kiai Pejuang Kemerdekaan

KH Ahmad Fauzan. (Foto : Istimewa)

Alhimna.Com – KH Ahmad Fauzan atau Kiai Fauzan lahir pada 1320 H/ 1905 M di dukuh Penggung desa Gemiring Lor kecamatan Nalumsari kabupaten Jepara.

Beliau lahir dari keluarga Ibu Nyai Thahirah binti Kiai Harun bin Kiai Arif dan KH Abdul Rasul bin Kyai Ahmad Sanwasi. Silsilah nasab Kiai Fauzan bersambung sampai Kiai Umar, ayah KH Soleh Darat sebab Kiai Ahmad Sanwasi adalah menantu Kiai Umar (Masyhud: 2016).

Kiai Fauzan memperdalam ilmu agama Islam di Pesantren Balekambang Mayong (sekarang masuk wilayah Nalumsari). Di bawah asuhan dan bimbingan KH Chasbullah kemudian ke Pesantren Kasingan (Rembang dalam asuhan KH Khalil dilanjutkan ke tanah suci Makkah (Masyhudi: 2013).

Selesai dari Makkah beliau menekuni kajian ilmu keislaman secara mendalam serta menghafal al quran kepada KH Soleh (Tayu Pati). Di antara karamah beliau adalah mampu menghafalkan al quran hanya dalam waktu kurang dari 100 hari.

Perjuangan Kemerdekaan
Pada saat kekosongan kekuasaan setelah Belanda dikalahkan Jepang, terjadi penjarahan aset di Pegadaian Jepara oleh beberapa oknum pejabat untuk mengambil kesempatan.

Hal tersebut membuat masyarakat kecil terdorong ikut-ikutan menjarah sehingga timbul kekacauan dan kerusuhan. Sebagai tokoh agama beliau diminta Jepang untuk mengimbau pengembalian barang jarahan. Atas kharisma beliau masyarakat bersedia mengembalikan barang jarahan.

Namun setelah barang dikembalikan justru Al-Maghfurlahu  Kiai Fauzan didakwa sebagai biang kerusuhan dan kekacauan tersebut. Beliau ditangkap oleh Jepang kemudian disiksa serta mengalami penderitaan yang luar biasa. Kondisi ini disebut beliau sebagai masa “pesakitan”. Karena tidak terbukti akhirnya beliau dibebaskan Jepang (Rohman: 2018).

Kiai Fauzan adalah ulama yang gigih dalam perjuangan menentang dan mengusir penjajah serta mempertahankan kemerdekaan. Tahun 1945 suatu peristiwa yang menggemparkan terjadi di wilayah Pati. Para Kiai berkumpul dan bermusyawarah agar tentara Jepang segera menyerah.

Secara aklamasi para kiai bersepakat agar Kiai Fauzan memimpin penyerangan melawan tentara Jepang. Berkat perjuangan, tulus ikhlas dan tekad bulat akhirnya niat untuk mengusir penjajah Jepang dikabulkan oleh Allah SWT. Seluruh pasukan Jepang bertekuk lutut pada rakyat Indonesia di Pati (Styawan: 2016).
Al-Maghfurlahu Kiai Fauzan sangat aktif bergerilya dalam rangka mempertahankan kemerdekaan. Berbagai perlawanan dilakukan untuk menghadang Belanda sampai di Jepara.

Di antaranya menggelar pengasmaan bambu runcing di halaman masjid Darussalam Saripan Jepara untuk meningkatkan daya juang para pejuang.

Oleh karenanya beliau menjadi incaran tentara kolonial Belanda, di mana saja selalu dikejar-kejar sampai dibuatkan sayembara siapa saja yang memberitahukan keberadaanya akan diberikan hadiah oleh Belanda.

Beberapa kali lolos dari penyergapan atas izin Allah meskipun beliau sudah dalam keadaan terkepung. Menjelang kekalahan Belanda beliau tertangkap oleh tentara belanda di Bangsri kemudian dimasukkan ke dalam sel tahanan Belanda di Jepara.

Namun setelah terjadi penyerahan kedaulatan dari tangan Belanda kepada Republik Indonesia tahun 1949, beliau dibebaskan dari tahanan (Rohman 2018).

Setelah bebas beliau kembali ke masyarakat dalam rangka ikut mengisi kemerdekaan. Beliau langsung diangkat oleh pemerintahan RI dan diamanati membangun serta memimpin Kepala Kantor urusan Agama Kabupaten Jepara yang pertama setelah revolusi. Beliau juga pernah menjadi anggota DPRD.

Setelah NU menyatakan keluar dari partai Masyumi pada muktamar di Palembang tahun 1952 NU menjadi partai mandiri dan mengikuti pemilu pertama tahun 1955.

Hasil luar biasa dicatatkan oleh Nahdlatul Ulama (NU) secara nasional berada di peringkat ke-3 dengan jumlah suara 6.955.141 sebesar 18,41 % dan 45 anggota konstituante dibandingkan sebelumnya pada saat masih di dalam Masyumi hanya mendapatkan 8 kursi (Mun’im: 2016).

Di Jawa Tengah partai NU menduduki posisi ketiga menang di 4 kabupaten/ kota yaitu menang mutlak di Jepara (110.953 suara), Demak (100.974 suara), Kudus (63.007 suara) dan Magelang (137.037 suara) (Minarno: 2011).

Kemenangan mutlak NU di Jepara tidak terlepas dari peran Kiai Fauzan bersama dengan KH Abdurrosyid melalui sikap integritas serta akomodatif beliau berhasil menjalin komunikasi dengan semua pihak baik kawan maupun lawan.

Beliau selalu menghadiri pengajian rutin idarah di masyarakat seiring dengan kunjungan beliau ke KUA kecamatan-kecamatan yang ada di seluruh Jepara untuk semakin memperkuat basis NU.

Transportasi di wilayah Jepara pada masa tersebut masih sulit sehingga seringkali beliau menginap di masjid dikarenakan pengajian diselenggarakan malam hari, keesokanya beliau baru pulang. Beliau membuat screening untuk menjadi pegawai KUA haruslah mampu membaca kitab kuning.

Akhlak dan Tasawuf
Kiai Fauzan menawarkan kajian akhlak tasawuf untuk menghindari kajian akhlak yang hanya berada pada tataran pemikiran yang tidak memberikan bekas pada seseorang menjadi orang-orang yang memiliki akhlakul karimah.

Untuk menggapai akhlakul karimah diperlukan proses yang biasa dilakukan oleh kalangan mutashowwifin (pengamal tasawuf) karena sejatinya esensi dari tasawuf adalah pencapaian akhlaqul karimah.

قيمة إنسان بقدر الآدب اي لا بقوة ومال نسب 

“Harga diri seseorang itu diukur dengan kadar budi pekertinya atau akhlaknya  artinya tidak dengan sisi keperkasaan, sisi kepemilikan harta dan sisi keturunan”

Dalam bait di atas seolah-olah Kiai Fauzan memberikan standardisasi terhadap kemuliaan seseorang dengan parameter akhlak, bukan dengan kepemilikan materi, keperkasaan, dan nasab yang unggul (Masyhud: 2016).

Kiai Fauzan mengajarkan agar menjalankan akhlaq mahmudah (terpuji) dan menjauhi akhlaq madmumah. Beliau menyebutkan dalam kitabnya Alfiyah Al-Ghazali ta`’lif al-‘Allamah KH Fauzan Syarifan Jepara. Pemikiran akhlaq-tasawuf Kiai Fauzan terlukis dalam syair (Masyhud: 2016)

عليك بالصبر وشكر وسلام رضا وزهد ولذنبك ندم
بين الرجا والخوف عدل وخلق اخلاص حب مولي مع قلب عشوق 

“Hendaknya kamu memiliki (akhlak) sabar, syukur, memberi salam, rida, zuhud, taubat, raja, dan khauf, adil, ikhlas, mahabbah terhadap Tuhan, dengan cara sepenuh hati”

Banyak sekali tamu berkunjung ke rumah beliau dengan berbagai permasalahanya, meminta doa atas permalahan yang dihadapinya, meminta bantuan atas kesulitannya.

Diceritakan KH Saifudin Zuhri Allahu yarhamuh pada waktu itu masih menjabat Kakanwil Depag menceritakan saat berkunjung ke rumah beliau ada seorang pengemis dengan pakaian lusuh serta caping kropak (topi khas Jawa dari daun siwalan) meminta makanan karena lapar. Kiai Fauzan pun mendahulukan memberinya makanan daripada tamu-tamu yang lain (Rohman: 2018).

KH Ahmad Fauzan wafat hari Selasa, 6 Robi’us Tsani 1933 H atau bertepatan dengan 17 Mei 1972 M pukul 11.00 WIB. Detik-detik kepergian beliau ke rahmatullah masih dalam keadaan muthalaah kitab tafsir yang kebetulan sedang disowani Abdul Hamid, seorang kepercayaan beliau sebagai bendahara/ bagian keuangan ketika beliau menjabat sebagai Kandepag Jepara.

Beliau di makamkan di pemakaman Suromoyo desa Kedungleper (Ampean) kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara. (Faiqul Hazmi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here