Hukum Suntik dan Infus Saat Berpuasa - Alhimna

Breaking

Alhimna

Ilhami Dunia Dengan Aswaja

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 27 Mei 2018

Hukum Suntik dan Infus Saat Berpuasa

Praktik infus. (Foto : Tempo) 

Alhimna.Com - Suntik dan infus merupakan salah satu bentuk perawatan dan pengobatan yang diberikan kepada seseorang yang sedang sakit. Suntik dan infus dilakukan dengan memasukkan cairan ke dalam tubuh yang dilakukan dengan mengalirkan cairan melalui jarum.

Suntik dan infus ini dua hal yang berbeda. Suntik adalah metode pengobatan dengan memasukkan cairan yang merupakan obat suatu penyakit ke dalam tubuh.

Suntikan ini tidak membuat tubuh menjadi segar atau menjadi nutrisi bagi tubuh. Sementara infus merupakan memasukkan cairan yang berupa pengganti makanan ke dalam tubuh. Sehingga infus ini akan membuat tubuh menjadi segar, dalam arti lain infus menggantikan fungsi makan dan minum pada tubuh.

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimanakah hukum dari suntik dan infus yang dilakukan ketika puasa? Membatalkan atau tidak?

Suntik dan infus di sini memiliki hukum yang berbeda terhadap puasa. Untuk suntik, para ulama seperti Syekh Abdul Aziz bin Baz dan Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin mengatakan jika suntik tidaklah membatalkan puasa.

Hal tersebut dikarenakan suntikan tidaklah termasuk makan dan minum, dan tidak bisa disamakan dengan makan dan minum. Maka suntikan yang dilakukan di pembuluh, lengan, atau paha tidaklah membatalkan puasa.

Akan tetapi hal tersebut lebih baik dihindari, atau dilakukan ketika malam, hal itu lebih baik. Demi menghindari keragu-raguan.

Kemudian infus, para ulama terdapat perbedaan pendapat pada hukum infus, akan tetapi yang lebih mayoritas adalah membatalkan puasa. Hal ini dikarenakan infus disamakan dengan makan dan minum, yang mana memberikan kesegaran dan tenaga.

Sehingga seseorang yang diinfus akan merasakan segar dan dahaganya akan hilang, yang mana hal tersebut akan menghilangkan tujuan dari puasa itu sendiri yakni merasakan lapar dan dahaga sebagai wahana latihan pengendalian diri. Maka mayoritas ulama berpendapat bahwa infus membatalkan puasa.

Memang kedua hal tersebut, suntik dan infus, merupakan hal baru pada zaman sekarang, yang mana pada zaman rasul dan sahabat belum ada.

Dan hukum dari kedua hal tersebut masih disangsikan, banyak perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Maka terkait permasalahan tersebut, dianjurkan jika suntik dan infus lebih baik tidak dilakukan ketika sedang berpuasa, atau dilakukan ketika malam hari saja saat tidak berpuasa. Hal tersebut lebih aman, mengingat masih banyak nya kesangsian hukum di kalangan para ulama. Wallahu a’lam bis shawab. (*)


__Afi Tarim, mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here