Dalil-dalil Mengakhirkan Sahur dan Menyegerakan Berbuka Puasa - Alhimna

Breaking

Alhimna

Ilhami Dunia Dengan Aswaja

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 23 Mei 2018

Dalil-dalil Mengakhirkan Sahur dan Menyegerakan Berbuka Puasa


Berbuka saat yang ditunggu orang yang berpuasa. (Foto: Istimewa)
Alhimna.Com - Islam adalah agama yang indah. Di dalamnya terdapat perintah puasa yaitu menahan diri dari lapar dan haus serta menahan nafsu untuk berbuat keburukan.

Puasa adalah salah satu ibadah yang mampu digunakan sebagai sarana untuk menahan diri dan muhasabah diri  setelah 11 bulan sebelumnya kita semua tidak diwajibkan berpuasa.

Dengan berpuasa, kita dapat menjaga diri dari perbuatan buruk dan membiasakan diri untuk sederhana dan bersabar, serta beramal dengan sebaik – baiknya karena ganjaran orang yang beramal di bulan suci Ramadhan akan dilipat gandakan oleh Allah SWT.

Puasa di bulan suci Ramadhan adalah puasa wajib umat Islam yang dilaksanakan satu bulan penuh. Pada bulan yang istimewa ini, banyak keutamaan yang akan kita dapatkan, juga Sunnah – Sunnah yang dapat kita amalkan, di antaranya adalah mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan berbuka puasa.

Apa saja dalil–dalil nya? Mari kita simak berikut ini!

1.   Mengakhirkan Sahur
Sahur yaitu makan dan minum di waktu sahur merupakan salah satu Sunnah bagi orang yang hendak berpuasa. Diterangkan jelas dalam hadist berikut ini:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَصُومَ فَلْيَتَسَحَّرْ بِشَىْءٍ

Barangsiapa ingin berpuasa, maka hendaklah dia bersahur.”
HR. Ahmad 3/367. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini derajatnya hasan dilihat dari jalur lainnya, yaitu hasan lighoirihi.

Dan hadist lain juga menyebutkan bahwa terdapat keberkahan pada saat sahur.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً
Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.” (HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095)

السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى المُتَسَحِّرِينَ

Sahur adalah makanan yang penuh berkah. Oleh karena itu, janganlah kalian meninggalkannya sekali pun hanya dengan minum seteguk air. Karena sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad 3/12, dari Abu Sa’id Al Khudri)

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya.

Dari beberapa hadist di atas dapat diketahui bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan sahur, dan Nabi pun tidak pernah meninggalkannya.

Kemudian, kapankah tepatnya Nabi melakukan Sahur?

Disunnahkan untuk mengakhirkan waktu sahur hingga menjelang fajar. Hal ini dapat dilihat dalam hadits berikut. Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit, ia berkata,

تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلاَةِ. قُلْتُ كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا قَالَ خَمْسِينَ آيَةً.

Kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami pun berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas bertanya pada Zaid, ”Berapa lama jarak antara adzan Shubuh dan sahur kalian?” Zaid menjawab, ”Sekitar membaca 50 ayat”. (HR. Bukhari no. 575 dan Muslim no. 1097)

Dalam riwayat Bukhari dikatakan, “Sekitar membaca 50 atau 60 ayat.”

Maksud dari 50 ayat ini adalah menandakan bahwa jarak waktu Nabi melakukan sahur dengan adzan subuh tidaklah lama, yaitu sekitar 30 menit hingga 15 menit sebelum adzan shubuh. Jadi dapat disimpulkan bahwa hendaknya kita mengakhirkan makan sahur sesuai Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghindari makan sahur jauh sebelum waktu adzan subuh.

2.   Menyegerakan Berbuka
Berbuka merupakan hal yang sangat ditunggu–tunggu ketika berpuasa. Ketika waktu maghrib telah tiba, dan adzan berkumandang, maka itulah waktu berbuka puasa. Lalu lebih baik mana berbuka puasa dahulu atau menunaikan shalat Maghrib dahulu?

Mari kita simak beberapa hadist mengenai buka puasa berikut ini

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098, dari Sahl bin Sa’ad)

Dalam hadits yang lain disebutkan,

لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ

Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban 8/277 dan Ibnu Khuzaimah 3/275)

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.

Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164)

Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Dari beberapa hadist tersebut dapat diketahui bahwa hendaknya menyegerakan berbuka puasa ketika sudah memasuki waktunya, walaupun hanya dengan seteguk air, dan hadist diatas juga menjadi dalil Sunnah berbuka puasa dengan makanan yang manis seperti kurma, sebagaimana Rasulullah SAW berbuka dengan kurma.

Oleh sebab itu hendaknya kita mampu menjalankan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebaik baiknya. Wallahua’lam bish shawab!

__NABILLA AGUSTHINTA, Mahasiswi semseter 4 jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here