Asal-Muasal Penambahan Lafal SAW dan SWT - Alhimna

Breaking

Alhimna

Ilhami Dunia Dengan Aswaja

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 12 Januari 2018

Asal-Muasal Penambahan Lafal SAW dan SWT




Oleh : Fadh Ahmad Arifan



Alhimna.Com - Ketika menghadiri konferensi, acara kedinasan dan pengajian ada pembicara atau narasumber yang menyebut nama Nabi Muhammad SAW.

Seringkali saya mendengar sebagian peserta yang hormat dan cinta Nabi Muhammad spontan mengucap "Shallahu'alahi...". Intinya bershalawat tiap nama ayahanda Siti Fatimah Az-Zahra itu disebut-sebut.

Tradisi bershalawat seperti ini merupakan wujud dari pengamalan dari surah al-Ahzab ayat 56: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang beriman, bershalawatlah kamu untuknya dan bersalamlah yang sempurna".

Menurut sabda Nabi orang yang malas mengucap shalawat tergolong orang bakhil. "Orang yang bakhil adalah orang yang apabila aku disebut, dia tidak membaca shalawat kepadaku" (HR. At-Tirmidzi).

Membaca shalawat untuk Nabi muhammad ada di dua tempat : di dalam shalat dan di luar shalat. Bacaan shalawat di luar shalat misalnya saat hari Jumat.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda, ”Banyaklah bershalawat kepadaku di hari Jumat dan malam Jumat. Barang siapa melakukan hal itu, maka aku menjadi saksi dan pemberi syafa’at baginya di hari kiamat (Al Baihaqi).

Setiap kali umat Islam membaca shalawat atas Nabi Muhammad akan dibalas oleh Allah SWT 10 kali lipat shalawat dan dihapus 10 kesalahan serta diberikan 10 macam pahala (Muhammad Alfis Chaniago, Indeks Hadits dan Syarah jilid 2, CV Pustaka Qalbu, 2014).

Penghormatan kepada Nabi Muhammad juga merambah ke dunia literatur dalam hal ini kitab turats maupun penulisan buku-buku keislaman. Predikat atau lafadz Shallahu 'Alaihi Wasallam (SAW) selalu ditambahkan di belakang nama beliau.

Pertanyaannya adalah bagaimana asal-muasal dan siapa pelopor penambahan lafadz SAW tersebut? Ulama tafsir Thahir ibn Asyur dan ulama Hadis al-Qadhi iyadh menyatakan penulisan nama nabi Muhammad yang selalu diikuti lafadz SAW muncul sejak abad IV hijriyah. Kitab tafsir dan hadis sejak abad tersebut mulai menambahkan lafadz Shallahu' Alaihi Wasallam (SAW).

Rupanya yang mempelopori tradisi ini adalah ulama hadis. Bukan hanya nama Nabi Muhammad, An-Nawawi juga menganjurkan untuk menambahkan kata untuk lafadz Allah dengan "Azza wa Jalla", "Ta'ala" atau "Subhanahu wa Ta'ala" (SWT).

Kalau seseorang menyalin dari suatu buku/ kitab yang tidak mencantumkan lafadz tersbut, maka sebaiknya penyalin mencantumkan. "Seseorang hendaknya jangan bosan mengulanginya, siapa yang mengabaikan hal ini, maka dia telah luput meraih kebaikan yang banyak," Begitu tulis an-Nawawi dalam muaqddimah Shahih muslim (Tafsir al-Misbah Volume 11, hal 315-316).

Perlu diketahui, penambahan lafadz SAW untuk Nabi Muhammad dan lafadz SWT untuk Allah tidak akan diperbolehkan dalam pengkajian Islam di kampus Barat.

Jangankan lafadz tersebut, saat mencantumkan kalimat "bismillahirrahmanirrahim" sebagai permulaan menulis artikel dalam jurnal juga dilarang.

Pelarangan ini dimaksudkan untuk menegaskan adanya netralitas dalam jurnal tersebut, yang menempatkan Islam cuma sebagai disiplin akademis. Bukan sebagai suatu ajaran yang diimani (Djoko susilo, Kontroversi Pusat pengkajian Islam di Barat, majalah SM edisi 15-31 Maret 1997, Hal 43).

Sebelum mengakhiri ulasan tentang ulama yang menjadi pelopor penambahan lafadz SAW dan SWT, perlu kiranya seorang Muslim tak usah berlagak netral atas nama “ilmiah”, dianggap obyektif dan digelari “intelektual” dalam Studi Islam.

Sikap seorang Muslim harus tegas, tak boleh bersikap mengambang apalagi melempem saat mensyiarkan keluhuran agama Islam di mana pun ia berada. Wallahu'allam. (*) 


__Alumnus Fakultas Syariah UIN Malang


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here